Selasa, 16 September 2008

secangkir kopi siang ramadhan

:: pelanggaran berbuah kenikmatan…

Peristiwa ini terjadi tiga tahun silam, tepat di pertengahan bulan puasa. Begini ceritanya: Waktu itu aku sedang dalam perjalanan dari rumah menuju kampus. Menempuh jarak tak kurang tigapuluh kilometer di siang bolong, tenggorokanku terasa kerontang. Lebih parah lagi, kedua kelopak mataku digelayuti rasa kantuk yang amat sangat akibat semalaman begadang. Iblis di dalam diriku pun sepertinya menyambut gayung yang dihasrati tenggorokan dan dua kelopak mataku itu dengan amat girang. Digodanya aku habis-habisan untuk membelokkan setir sepedamotor menuju kedai makan di tepi jalan yang umumnya dibuka pintunya saja – mirip warung yang sedang tutup. Tapi apa lacur, di dalam warung makan itu ternyata sudah ada tak kurang enam orang yang nampaknya baru saja menandaskan makan siangnya. Ini aku tahu dari piring-piring kotor yang ada di hadapan masing-masing. Sebagian dari mereka menyambung makan siangnya dengan hidangan kopi plus rokok, sebagian lainnya mereguk es teh.

Sejenak setelah memasuki warung, aku pesan secangkir kopi kepada ibu setengah baya pemilik warung. “Nggak makan, Mas?” Tanya si ibu pemilik warung. “Nggak Bu, kopi aja,” jawabku sembari mengambil posisi duduk di antara para pengunjung lain itu. Kopi pun dihidangkan dan langsung kutuang sedikit demi sedikit ke lepek lantas kuseruput. Nikmat, tentu saja. Tapi di sisi lain, kenikmatan itu tak terasa maksimal. Bukan semata karena faktor kualitas racikan kopinya, mungkin, tapi juga karena ada suatu perasaan berdosa yang menyeruak di dalam diri. Ini bulan Ramadhan, dan aku membatalkan puasa hanya karena rasa haus dan kantuk yang menyergapku – begitu gumamku dalam hati. Bagaimana rasanya para petani di sawah dan para pedagang di pasar yang tetap berjuang mempertahankan puasanya meski tenggorokan bak gurun pasir dan tubuh meletih sangat – aku menyesali kepengecutan dan kecengengan diriku sendiri yang tak sanggup bertahan.

Aku ingat semasa SMP dulu sering kawan-kawanku yang bengal mengajakku untuk membatalkan puasa – secara gerilya alias sembunyi-sembunyi, tentunya (karena takut kena marah orangtua dan guru). Pernah kami ramai-ramai menuju warung es yang tak jauh dari sekolah untuk “buka puasa berjamaah”. Sebenarnya ini sangat memalukan mengingat SMP kami adalah SMP Muhammadiyah yang notabene mengajarkan kedisiplinan yang ketat dalam hal beragama. Tapi sebagai remaja yang sedang diperbudak gejolak di benak untuk jadi manusia pemberontak (jadi teringat judul novel Camus, L’Homme Revolte), kami lemparkan jauh-jauh segala ajaran kedisiplinan moral dan akhlak agama yang didedahkan oleh guru-guru kami ke recycle bin di sudut kiri gumpalan otak kami. Hingga kami tumbuh dewasa sekarang ini, sebagian dari kami me-restore-nya untuk dipraktekkan dalam hidup sehari-hari, dan sebagian lainnya mengambil aksi empty recycle bin – memusnahkannya dari jangkauan ingatan dan perhatian kesadaran (entah saya sendiri masuk kelompok yang mana, hehe..). Dan, rasa-rasanya, saya tak perlu terlalu jauh mengumbar cerita ini, karena aku sadar sesadar-sadarnya bahwa ini – tak lain dan tak bukan – adalah aib.

Balik ke soal awal ceritaku tadi: Setelah membayar nominal secangkir kopi kepada si ibu setengah baya pemilik kedai, aku raih cerek berisi air putih lalu kutuang air di dalamnya ke gelas berukuran jumbo. Kureguk segelas air itu lantas aku berpamitan kepada si ibu penjual. Sejurus kemudian aku ngeloyor pergi menuju kampus. Di kampus, tak seorang pun kawanku yang tahu bahwa hari itu aku sedang tak berpuasa. Perutku tetap kelihatan kempis karena aku cuma mengisinya dengan secangkir kopi dan segelas air putih, tanpa sepiring nasi. Bedanya, aku hanya lebih bergas dan bergairah dibanding kawan-kawanku yang nampaknya pada teler saat mengikuti perkuliahan yang diampu oleh seorang dosen perempuan berjilbab yang kelihatannya juga tak kalah telernya dibanding para mahasiswa di hadapannya (maklum saat itu tengah-hari, saat di mana tubuh yang berpuasa minta dibaringkan-dimanjakan di atas kasur dan kelopak mata menuntut untuk dipejamkan dalam oase mimpi). Dalam hati aku bergumam: kejahatan yang diumbar kafein di dalam batok kepalaku rupanya memang ampuh untuk membuatku merajai kelas di perkuliahan kali ini. Saat itu, sayalah mungkin yang paling bergas. Meski tak semua kawan sekelasku itu berpuasa (karena ada yang non-muslim), tapi aku yakin menjelang kuliah saat itu akulah satu-satunya yang sempat serong ke warung dan mereguk nikmat plus khasiat secangkir kopi.

Dan, di rumah… soreharinya… saat beduk magrib terdengar bertalu-talu… aku tak kalah gesit dibanding adikku dalam menyambar menu takjilan dan aneka hidangan buka puasa bikinan simbokku (yang memang jago memasak itu)… seolah-olah hari itu aku memang sedang berpuasa… seolah-olah pelanggaran di siang bolong itu sama sekali tak pernah terjadi (maksudku serasa tak pernah kulakoni, hehe..).

Tuhan Mahatahu tetapi menunggu—kata Leo Tolstoi. Entah, mungkin pelanggaran itu telah dibalasnya tanpa saya sadari; mungkin juga belum…(tapi saya haqqul yaqin, Tuhan Maha-pemurah-dan-pemaaf-dan-pengertian, kok…).

Entahlah...[]

medio ramadhan 2008




Rabu, 03 September 2008

secangkir kopi temaram

.: extra-cost for pseudobliss


Di suatu malam minggu, sekira sebulan silam, aku mengunjungi kedai kopi remang-remang di daerah selatan Jember—domainku (daerah asalku) sendiri. Sesuai dengan konotasinya, kedai kopi ini memang kerap menjadi kegiatan terselubung serupa panti pijat plus-plus di Ibukota. Para pramusaji di kedai ini kebanyakan adalah eks pekerja seks komersil di bekas kompleks lokalisasi Besini, Puger, yang ditutup pemerintah daerah setempat kira-kira setahun silam. Di wilayah selatan Jember sendiri, terutama sejak dua-tiga tahun terakhir ini, kedai kopi muncul bak jamur di musim penghujan. Di sekujur lajur jalan arteri sepanjang empat belas kilometer yang menghubungkan kecamatan Ambulu dan kecamatan Balung, misalnya, ada tidak kurang tigapuluhan kedai kopi. Itu baru yang terletak di kanan-kiri jalan arteri, belum termasuk yang ada di daerah-daerah pelosok desa. Berniat sekedar membuang suntuk karena tidak punya pasangan alias pacar untuk dikencani di malam minggu itulah, bersama lima orang kawan, aku datang mengunjungi salah satu kedai yang terletak persis di tepi jalan arteri di desa Tanjung Rejo, kecamatan Wuluhan—kecamatan yang terletak di antara Ambulu dan Balung.


Begitu memasuki kedai, kami berenam disambut penuh akrab oleh para pramusaji. Seolah-olah mereka telah mengenal kami dengan intim. Padahal, ini baru kali pertama kami mengunjungi kedai tersebut. Mungkin memang beginilah gaya khas para pramusaji yang merangkap tugas marketing untuk merayu para calon pelanggan. Selanjutnya, kami memesan enam cangkir kopi kepada salah seorang di antara mereka. Sementara salah seorang dari mereka duduk menemani kami berenam. Dan sialnya, aku yang berada di ujung bangku kayu di dalam kedai itu tak pelak lagi harus duduk berhimpitan dengan si pramusaji, dan mau tak mau musti rela jadi sasaran utama basa-basi dan bujuk-rayunya. Sekali lagi: sial, kubilang. Bukan; bukan karena aku sok suci atau apalah namanya. Tapi lebih karena aku tak cukup terampil menghadapi bahasa verbal dan sekaligus bahasa tubuh lain jenisku yang ditujukan kepadaku secara agresif. Suwer, aku kikuk dan risih menghadapi agresifitas perempuan. Bahkan, tangannya juga tak absen dari bahasa tubuh yang sedang ia peragakan di depan kami berenam—dan lagi-lagi, akulah sasaran utamanya.


Tak ingin menanggung malu karena keringat dingin mulai terasa merembesi keningku, aku pun pamit ke belakang. Mau pipis, kataku pada si pramusaji dan kelima kawanku. Kontan saja, tanpa perlu seorang dirijen untuk memandu jalannya koor, mereka semua ketawa terbahak-bahak. Tapi untungnya di dalam kedai hanya ada kami berenam plus tiga wanita pramusaji, beberapa pengunjung lain duduk di bangku yang ada di luar kedai. Namun sialnya, seorang kawanku bukannya bersimpati malah tiba-tiba nyeletuk dengan entengnya, persis mulut mengunyah kerupuk: “masak gitu aja udah mau pipis?! Kok cepet banget...” Brengsek, pikirku tanpa meletupkannya melalui mulutku. Aku keluar dan kemudian berdiri di tepi jalan sembari menunggu kopi pesanan kami disuguhkan.


Begitu kulihat seorang pramusaji datang membawa enam cangkir kopi pesanan kami, aku pun kembali masuk ke dalam kedai. Tak ingin terulang peristiwa seperti tadi padaku, aku lantas mengambil posisi duduk di sudut warung, di deretan paling ujung sebelah dalam dari posisi duduk kawan-kawanku. Safe-positioning, pikirku. Kami pun selanjutnya menikmati kopi dari cangkir masing-masing sembari diselingi obrolan-obrolan binal dan nakal dengan si pramusaji. Si pramusaji sempat menanyai kami berenam, entah serius atau cuma bercanda: apa kami tak berminat menyicipi layanan tripel X? Lalu seorang kawanku yang paling tangkas mulut dan lidahnya menjawab: “asalkan boleh ngutang, bayarnya nunggu panen tembakau dua bulan lagi.” Sebuah jawaban yang tokcer dan sekaligus jenaka, menurutku; sebuah penolakan yang halus namun mujarab. Dan si pramusaji pun selanjutnya tak mengeluarkan jurus-jurus rerayuan mematikannya lagi; kapok oleh jurus penangkis kawanku tadi, barangkali. Kami menang telak, pikirku. Kami berenam memang telah bersepakat untuk tak berlaku macam-macam di tempat itu, karena bisa berabe akibatnya. Selanjutnya obrolan terjadi tanpa ada lagi bujuk rerayuan si pramusaji meski tetap diselingi canda yang nyerempet-nyerempet ke wilayah hazardous alias “plang-merah” atawa “bahaya”. Yach, sepanjang itu cuma lips show alias ocehan-racauan khas anak muda jomblo, kukira tak mengapa. Untuk membuang suntuk, pikirku. Toh, seturut pendapatku, seksualitas itu tak perlu ditabukan dalam wicara; yang tabu adalah melakukannya dengan sembarang pasangan, lebih-lebih di sembarangan tempat (macam orang buang ludah saja, hahaha...).


Sekira telah satu jam lamanya melewatkan waktu di dalam kedai, sementara kopi di masing-masing cangkir kami juga telah tandas bersisa ampas semata, kami pun bergegas pulang setelah sebelumnya membayar sejumlah nominal untuk enam cangkir kopi plus satu pak rokok. Dan, ternyata, harga secangkir kopi di sana berlipat dua bila dibandingkan harga di kedai-kedai lain yang tak ada “pramusaji ekstra”-nya. Bujur buneng... rupanya kami (dan semua pengunjung, pastinya) harus membayar ekstra untuk jasa bujuk-rayu dan obrolan binal-dan-nakal para pramusaji eks pramuria itu.


Tapi puasss, son!” pekik seorang kawanku di tengah perjalanan kami menuju pulang. “Puas gundulmu!” balas seorang kawan lain sambil terkekeh-kekeh di tengah raungan mesin sepeda motornya menyusuri jalanan. “Adik-kecil-ku tiwas mumet, kampret!” sambungnya diiringi tawa yang terbahak-bahak, seolah-olah tak ambil peduli dengan lalu-lalang pengendara lain di sepanjang lajur jalan raya itu.


Dasar bujang lapuk, gumamku dalam hati menanggapi tingkah polah dua kawanku tadi.[]

tgl brp y?

Secangkir Kopi Surgawi

.: secawan hiperbola buatmu, nona...

Mbok Maryam, begitu ia biasa dipanggil. Janda limapuluhan tahun itu adalah pemilik kedai kopi di sebuah kampung terpencil yang dikelilingi barisan pepohonan jati; kampung Ungkalan namanya. Konon, kampung berpenghuni limaratusan jiwa itu dinamai demikian karena di sana terdapat sebuah batu berukuran besar yang dapat digunakan untuk mengasah benda-benda tajam. Ungkal sendiri merupakan istilah dalam bahasa Jawa untuk menyebut batu pengasah benda-benda tajam. Di dalam buku atlas, letak persis kampung itu adalah di ujung tenggara wilayah administratif kabupaten Jember, dan masih berada dalam kawasan hutan suaka Meru Betiri.


Pada suatu senjakala, sepulang memancing ikan di salah satu rawa sebelah selatan kampung Ungkalan, aku dan dua orang kawanku menyempatkan diri untuk mampir di kedai kopi mbok Maryam. Sekedar untuk meluruhkan lelah sekalian menikmati secangkir kopi racikan Janda yang konon di masa mudanya digandrungi banyak lelaki itu, begitu pikirku. Selang sepuluhan menit selepas memesannya kepada mbok Maryam, tiga cangkir kopi pun disuguhkan pada kami bertiga. Begitu kubuka tutupnya, uap air menyembul pekat dari cangkir di hadapanku itu. Sejurus kemudian, kuseruput perlahan-lahan adonan kopi yang nyaris sehitam aspal itu. Panas terasa menyengat bibirku. Tapi dalam tradisi masyarakat desa, memang demikianlah cara menikmati kopi yang diyakini paling tepat. Kopi yang telah dingin akan berkurang drastis tingkat kenikmatannya. Kopi dingin adalah jatah cicak, begitu seloroh kawan-kawanku dulu saat aku menolak untuk menyeruput kopi yang masih mengepulkan uap air, takut bibirku bakal melepuh terbakar panasnya.


Argh.. nikmat terasa kopi itu dalam cecapan lidahku. Kopi nasgitel, begitulah kami, aku dan kedua kawanku, menyebutnya. Nasgitel adalah akronim dari panas, legi, kentel (panas, manis, kental). Sebuah perpaduan antara kopi robusta plus gula dalam komposisi yang pas. Aku berani bertaruh, kopi racikan mbok Maryam ini tak bakalan kalah diadu dengan kopi bikinan pabrik macam KapalApi ataupun ToraBika.


Dalam sekejap saja, setelah seruputan pertama, penat yang menimbun di otakku serasa rontok. Lelah di sekujur tubuh pun terasa luruh perlahan, pertanda kafein telah menjalari saraf-saraf di seluruh tubuh dengan menumpang aliran darah. Kuperhatikan kedua kawanku itu juga mulai terbuai sensasi kopi setelah seruputan pertama dari cangkir masing-masing. “Koyok neng suwargo rasane rek,” kata seorang kawanku menegaskan betapa nikmat dan membius saraf kopi nasgitel racikan mbok Maryam itu. Mirip berada di surga, begitu maksud si kawan. Tentu saja ia amat berlebihan, karena tak satu pun dari manusia yang masih hidup pernah menjenguk nirwana. Tapi bahasa manusia, terlebih yang bersangkut-paut dengan sensasi rasa, tak bisa tidak harus menggunakan metafora. Rasa, entah itu yang terkait organ tubuh (misalnya lidah) ataupun hati (bukan liver lho ya), tak pernah bisa dilukiskan dengan kata-kata yang independen. Pengungkapan rasa, tak bisa tidak, selalu perlu metafora. Dan metafora, seringkali, amat sulit untuk terhindar dari hiperbola. Maka aku maklumi adanya bila kawanku itu sampai menyangkut-pautkan sensasi rasa kopi dengan surga segala. Karena begitulah bahasa manusia: tak berkutik bila sudah bersangkut-paut dengan rasa. (Anda tidak bisa melukiskan rasa di hati Anda tanpa terjebak dalam metafora – yang seringkali hiperbolik, tentunya).


Tak puas dengan hanya terbius oleh sensasi kafein saja, kami bertiga akhirnya menyulut rokok kretek kesukaan kami. Dan memang demikianlah antara kopi dan rokok membentuk kepadu-padanan dalam menyempurnakan sensasi rasa di saraf-saraf sensoris yang berpusat di otak. Sedotan demi sedotan batangan nikotin itu selanjutnya mengiringi seruputan demi seruputan kopi yang perlahan mulai turun temperaturnya. Persekutuan antara kafein dan nikotin, tak pelak lagi, membikin kami bertiga makin mabuk kepayang saja rasanya.


Sambil menikmati kemabukkepayangan oleh sensasi yang menggeletari tiap butir sel saraf di otak, kami bertiga mulai berbicara ngelantur laiknya orang yang sedang dalam pengaruh alkohol. Tantu saja amat berbeda antara sifat alkohol dengan sifat kafein dan nikotin. Kafein dan nikotin memicu ketegangan saraf, sementara alkohol, sebaliknya, mengendurkan saraf. Sebagai salah satu efeknya, dalam kadar berlebih, kafein dan nikotin dapat memicu frekuensi detak jantung secara ekstrem yang pada gilirannya memicu keluarnya keringat dingin, dan juga menimbulkan insomnia. Sementara alkohol, dalam kadar berlebih, membikin saraf mengendur secara berlebihan sehingga gerak organ-organ tubuh menjadi kacau, termasuk bicara yang ngelantur. Bahkan, karena mabuk oleh alkohol, orang bisa jatuh tertidur di atas jamban sekalipun. Temanku di SMA dulu pernah mengalaminya. Karena itulah, menyadari diri sedang letih setelah aktifitas memancing seharian, kami memilih kedai kopi dan bukan pub ataupun diskotek (lagian di kampung mana ada tempat begituan, hehe..).


Oh ya, lantas kenapa kami bertiga bicara ngelantur padahal yang kami cecapi adalah kafein dan yang kami cumbui adalah asap bernikotin? Ya, tentu saja ngelantur kami bertiga adalah ngelantur yang positif adanya (agak aneh memang, ada ngelantur yang positif segala). Ngelantur kami sepenuhnya terkontrol karena saraf-saraf kami memang tegang oleh deraan kafein dan jeratan nikotin, bukan ngelantur yang tak terkendali macam orang mabuk alkohol.


Begini, kami membincangkan soal masa depan, khususnya menyangkut jodoh. Dan aku sebut ngelantur tak lain adalah karena bicara kami bertiga sungguh muluk-muluk adanya, persis katak sedang memimpikan untuk menggendong rembulan.


Satu kawanku mendambakan seorang pasangan hidup yang sebaik dan secantik Zaskia Adya Mecca. Eh, maksudku ia bukan cuma mendambakan yang seperti, tapi yang benar-benar Zaskia Adya Mecca. Ya, ia mendambakan Zaskia betulan. (betul-betul katak perindu bulan, kan?) Seorang wanita shalihah, ia menegaskan tentang figur pujaannya, dan ia betul-betul mendambakan mantan pacar Sahrul Gunawan itu untuk jadi pendamping hidupnya, yang menurutnya bisa diandalkan untuk membangun biduk rumahtangga yang mawaddah dan rahmah. “Darimana kau tahu ia shalihah padahal ketemu saja belum pernah?” aku memrotesnya. “Dari televisi, dong,” jawabnya ketus. (begini nih, contoh sempurna model manusia yang terlalu berkarib akrab dengan infotainment dan sinetron.)


Seorang kawanku yang lain mendambakan... (oh, God. Ia menyebut seorang... ah, aku tak akan menyebutnya. Satu hal tentang kawanku satu ini: ia kolektor FB alias film biru. Model pasangan hidup dambaannya ternyata juga tak jauh-jauh dari yang sering ia tonton.)


Sementara aku sendiri tetap berteguh hati pada satu hati (eh, pada satu figur, maksudku). Di mana pun dan pada siapa pun selalu kusebut ia; termasuk dalam beberapa catatan, baik di buku diari maupun di blog ini, tak lelah-lelahnya aku sebutkan sosok pujaan hatiku itu. Pokoknya satu saja. Sekali lagi, satu saja; tiada yang lain. Iya, betul; tak salah lagi, dialah Diandra Paramitha Sastrowardoyo. Oughh... alamak... seribu cangkir kopi racikan mbok Maryam pun tak bakal mampu memompa detak jantungku secepat bila seandainya aku menjumpa si gadis manis yang, seturut kabar terakhir yang melayang padaku, telah jadi asdos di almamaternya setamat ia dari jenjang strata satu dan peroleh titel Sarjana Filsafat; di Jurusan Filsafat UI. (masih kurang jadi katak perindu bulan gimana lagi kalo sudah begini ini, heh??)


Kenapa pilih Dian Sastro?” kawan yang pertama tadi balas memrotesku dengan nada ketus dan sinis. “Karena hatiku memilih dia, dasar o'on..” jawabku sambil sedikit mengoloknya. “Cinta kan gak perlu diurai dengan kata-kata. Kalau hati sudah memilih, ya wes, gak perlu cari-cari alasan kenapa dan kenapi. Kalau kau paksakan mencari-cari alasan, seluruh deposit kata-kata dari seluruh bahasa di muka bumi ini pun tak bakalan cukup buat mendedahkan sebab-musabab jatuh cinta dan seluruh gerak-gerik hati. Paham?!” aku berorasi laiknya filsuf Cintaisme, yakni aliran filsafat baru yang kucetuskan setelah proyek Filsafat Eksistensialisme gagal total menjelaskan keber-ada-an (being) manusia dan dunia kecuali dengan simpulan muram ala Sartre dan Camus: hidup ini absurd, sia-sia belaka. Tapi filsafat baru ini tak hendak menjelaskan Cinta, melainkan cuma ingin menyebarkan persuasi-persuasi dan provokasi-provokasi positif kepada seluruh umat manusia untuk hidup hanya dengan Cinta semata. Metodenya: membangun kata-kata (baca: bahasa) seindah mungkin untuk mengukuhkan Cinta (ingat: mengukuhkan; bukan menjelaskan!) di hati setiap insan yang menyimaknya sehingga dapat mengikis tiap gerak-gerik hati dan pikiran yang mengandung kemuraman dan kebencian. Konon, problem terbesar filsafat mutakhir memang, tak lain dan tak bukan, adalah bahasa. Karena itu, melalui bahasa yang indah dan santun-lah, sebagai manifestasi dan sekaligus pengukuhan atas Cinta, dunia dapat dikonstruksi menjadi lebih baik dan berkeadaban. (hayo, siapa mau bergabung??) Konklusi dari madzhab baru filsafat ini adalah: Hidup ini penuh makna, tak ada kesia-siaan di dalamnya; bukalah hati dan pikiran untuk dialiri dan sekaligus mengalirkan Cinta. Demikianlah, sebuah antitesa dari Eksistensialisme-Atheis yang nyaris sempurna. (Tapi aneh juga ya, lha wong tujuannya mengukuhkan kok disebut “filsafat”. Hakikat filsafat kan menguraikan-menjelaskan?! Pasti si penulis ini, ya saya sendiri, sedang mabokkepayang-lupadaratan!)


Dan, tak terasa telah lewat satu jam lamanya kami bertiga bersenda-gurau di kedai kopi mbok Maryam. Sebentar lagi malam akan turun menyelimuti perkampungan terpencil ini. Maka, setelah membayar nominal tiga cangkir kopi yang telah tandas dan tinggal bersisa ampasnya saja di dasar cangkir itu, kami pun ngeloyor pergi meninggalkan kedai, bergegas menuju pulang.


Di sepanjang perjalanan, menyusuri jejalanan di tengah hutan jati yang mulai ranggas pertanda kemarau telah tiba, dalam suasana senyap yang menyambut turunnya tirai gelap malam, aku makin sadar diri: kebahagiaan bukanlah hal yang mustahil untuk dicecapi. Di kedai kopi mbok Maryam di pelosok wilayah yang jauh dari gemerlap kota dan koneksi internet; ya, di kampung Ungkalan yang dikelilingi wana jati itu: saya merasa bahagia. Ada senda gurau bersama kawan-kawan, ada kenikmatan karena sensasi rasa dari kopi, dan ada kedamaian perasaan saat mata menyaksikan pemandangan alam terbuka. Saya tak tahu, apakah bahagiaku akan sesempurna ini, atau malah melebihi ini, andai aku menikmati secangkir kopi di kafe-kafe dalam keriuhan pengunjung dan dentuman musik, atau bahkan mungkin di pelbagai tempat elitis macam HardRock dan Starbuck? Mungkin iya... tapi saya yakin: tidak!


Entahlah. Di antara keriuhan manusia dan kemewahan aneka benda artifisial, aku tak pernah menemukan ketenangan dan kebahagiaan sesempurna yang kuperoleh dalam kesederhanaan, kesahajaan, dan kedekatan dengan alam.[]


dan aku pun mabuk oleh secawan anggurmu, puan...

Jelang Ramadhan 2008




segelas pisu di 24.00

.: untuk merayakan perbedaan di tengah-tengah kita


tentang malam dan waktu

Semalam, di sebuah stan kaki lima di alun-alun kota Jember, pada kisaran 24.00, tersaji segelas pisu (kopi susu) di hadapanku. Bersama tiga orang rekan penghuni rumah kos, sengaja aku datang ke tempat tersebut untuk menyaksikan dan menikmati warna kehidupan malam: kehidupan yang konon menyimpan pesona dan sekaligus juga kengerian.

Malam adalah keindahan bagi mereka yang terlibat percintaan, magis bagi yang menggandrungi mistisme dan klenik, dan keheningan bagi para pencari inspirasi ataupun ketenangan. Tapi malam adalah juga tragedi, momen di mana tindak laku durjana acapkali terjadi: perampokan, perkosaan, pembunuhan, dll. Chairil Anwar pernah menulis, “aku suka pada mereka yang masuk menemu malam.”

Malam” yang dimaksud Chairil bisa jadi adalah sebuah kiasan bagi situasi dan keadaan yang penuh tantangan, penuh teka-teki, penuh bahaya, bertabur tragedi, yang jarang orang berani mengambil resiko untuk masuk menjalaninya. Maka untuk memasukinya, dibutuhkan nyali, tekad, dan keberanian yang tak kecil.

24.00 adalah sebuah titik kulminasi, titik puncak tertinggi dari perambatan kalkulasi mekanis atas waktu. Tapi waktu sesungguhnya tiada memiliki pangkal pun ujung. Tiada memiliki awal juga akhir. Ia bergerak sirkuler. Namun manusia mencipta sebuah sistem tanda untuk waktu: detik, menit, jam, hari/tanggal, bulan, tahun, dan seterusnya. Manusia membuat penanda, mencipta simbol dan hitungan matematis, atas pergerakan (baca: perputaran) waktu guna mempermudah ia mendefinisikan posisi dirinya di tengah rimba waktu. Dengan sistem penanda, waktu yang sesungguhnya bergerak sirkuler dideskripsikan secara linier: waktu yang telah berlalu tak akan pernah kembali.

24.00 adalah sebuah titik klimaks. Ia menjadi akhir sekaligus awal: akhir dari sebuah pendakian menuju puncak, dan awal langkah menyusuri jalan turun kembali menuju dasar (antiklimaks). Pada 24.00, hitungan satu hari berakhir dan sekaligus dimulailah penghitungan satu hari baru. Pada 24.00, sebagian besar kehidupan terhenti. Hiruk pikuk menjadi sunyi, riuh berganti hening. Sebagian besar makhluk hidup, tak terkecuali manusia, berada dalam fase tidur: sebuah “koma”, sebentuk recovery energi yang terkuras oleh beragam aktivitas seharian.

Di stan kaki lima malam itu, pada kisaran 24.00, terlihat denyut nadi lain kehidupan. Saat sebagian besar manusia terlelap dalam buai mimpi, segolongan manusia lain justru masih asik menikmati kehidupan: para lelaki dan wanita yang masih berada di dalam stan menikmati aneka makanan dan minuman sembari bercengkrama meninggalkan 24.00. Sementara segolongan lain lagi baru memulai kehidupannya: para pedagang di pasar tradisional yang mulai berangkat membawa aneka barang dagangan, juga para petugas kebersihan kota yang mulai menyapu serakan kotoran di jejalanan kota.


selubung warna yang menipu

Kuangkat gelas berisi kopi susu di hadapanku yang perlahan mendingin itu. Kutempelkan bibir gelas ke bibirku. Kuseruput perlahan lalu kembali kutaruh di atas meja seperti sedia kala. Kupandangi campuran susu kental manis dan serbuk kopi yang diseduh dengan air seratus derajat celcius itu. Kuning kecoklatan. Warna yang dihasilkan dari perpaduan antara hitam dan putih. Tak mampu aku mendefinisikan warna itu sebagai “bagus” atau “buruk”. Karena ia bagiku hanyalah warna lain, warna baru hasil perpaduan warna-warna lain. Warna yang berbeda dari putih ataupun hitam, namun samasekali tak bisa diperbandingkan apakah ia lebih bagus atau lebih buruk dibandingkan putih dan hitam.

Arghh... kopi susu itu terasa nikmat dalam kecapan lidahku. Membuatku ectase oleh sensasi manis, gurih dan sedap yang berkolaborasi di dalam campuran itu. Suatu campuran yang berasal dari warna yang saling bertolak-belakang namun menghasilkan sebuah rasa penuh kenikmatan. Ia menghasilkan sensasi yang teridentifikasi oleh saraf-saraf di lidah lalu dikirimkan ke otakku dan kemudian diinterpretasikan sebagai “lezat”.

Ah, betapa warna hanyalah sebuah tampilan luar yang tak jarang mengecoh. Warna seringkali menjadi selubung yang menyembunyikan isi dan kandungan yang ada di baliknya. Sebuah warna yang kita referensikan sebagai “buruk”, tak jarang malah menyembunyikan sebuah keindahan di dalamnya. Pun sebaliknya, kebusukan seringkali tersimpan dalam selubung warna yang kita labeli sebagai “indah”.

Ah, dan betapa seringnya manusia tertipu mentah-mentah oleh warna, terkelabuhi oleh penampilan luar. Tak jarang manusia berseteru, saling serang dan menumpahkan darah hanya karena sebuah warna. Putih tak mau bersanding dengan hitam, karena ia dianggap sebagai liyan (the other) yang menyimpang dan harus disingkirkan. Pun demikian sebaliknya bagi hitam. Putih diinterpretasikan sebagai sebuah bahaya, sebentuk ancaman bagi keberadaan dirinya yang musti dilenyapkan. Manusia seringkali terkecoh oleh tampilan luaran dan mengabaikan “rasa” yang ada di balik “warna”. Dan juga cemas dan khawatir pada “warna baru” yang akan muncul tatkala “warna-warna” dibiarkan melebur berkombinasi.

Ah, barangkali selama ini kita memang tiada pernah memikirkan apa-apa di balik nikmat dan ‘memabukkan’nya segelas kopi susu yang biasa kita minum dan membuat kita mengalami addict itu... [*]


Tepian Bedadung, 12 Desember 2007



secangkir kopi terlalu manis

.: tentang ”terlalu”


SIANG ini saya rada merasa jengah. Tak ada kegiatan yang menggairahkan untuk saya kerjakan. Pukul 09.00 WIB saya pergi ke perpustakaan kampus untuk membaca buku-buku di ruang referensi. Ada beberapa bahan yang ingin saya cari untuk membikin catatan di ruanglapang ini, juga beberapa data yang saya perlukan untuk skripsi saya. Tapi, sesampainya di sana, ternyata perpustakaan tutup. Rupanya sedang ada pekerjaan restore data sehingga pelayanan perpustakaan diliburkan hingga hari senin mendatang. Akhirnya, saya pulang ke rumah kos dengan perasaan kecewa. Untuk mengobati kecewa hati, setiba di rumah kos, saya segera meracik secangkir kopi dan berencana membaca koran.


Tapi sial, koran Kompas yang saya langgani ternyata belum diantarkan oleh si loper. Bukan satu kali ini saja si loper terlambat mengantar koran. Sudah berkali-kali koran yang semestinya bisa dibaca di pagi hari itu baru diantarkan sehabis waktu dzuhur. Betapa menjengkelkan bila harus “breakfast” di waktu “lunch” akibat “menu” yang terlambat dihidangkan. Akhirnya saya pun bergegas masuk ke kamar sembari menenteng secangkir kopi yang baru saya seduh dengan air panas dari dispenser itu. Dan untuk mengatasi kejengahan, daripada terbengong-bengong dan melamun, saya putuskan untuk membaca buku The Origins of Totalitarianism karya Hannah Arendt yang dua hari sebelumnya saya pinjam dari perpustakaan kampus.


Baru saja membaca tiga halaman di bagian awal bab 2 buku itu, saya sudah hilang ketertarikan. Saya tak mood lagi untuk meneruskannya. Pikiran saya sedang gundah-gulana, entah kenapa. Kemudian, saya putuskan untuk membikin catatan mengenai momen kejengahan pikiran yang saya alami hari ini. Saya nyalakan komputer, dan sembari menunggu proses loading Operating System-nya, saya seruput secangkir kopi yang masih mengepulkan uap air itu.


Puh, sial, kopi itu berasa manis sekali, terlalu manis (seperti lirik lagunya Slank: “terlalu manis, untuk dilupakan...”), hingga seperti mencekik tenggorokan, rasanya. Tak biasanya hal seperti ini terjadi. There is something trouble in my mind, maybe...


Tapi, seperti yang selalu saya yakini selama ini, setiap salah mengandung berkah, tiap musibah membawa hikmah. Dan secangkir kopi terlalu manis itulah—akibat something trouble in my mind tadi—yang menginspirasi saya untuk membikin catatan dengan komposisi yang seperti ini.


Setiap yang terlalu, pasti tidak baik. Apa pun itu. Terlalu besar, terlalu kecil, terlalu lama, terlalu sebentar, bahkan terlalu cantik atau terlalu tampan, semua yang terlalu pasti ndak baik bagi kita. Apatah lagi terlalu cinta, akibatnya nggak baik juga. Gak percaya? “Too much love will kill you”, ingat ‘kan ungkapan itu?


Mencintai itu indah, dicintai juga indah. Tapi bila dalam kadar yang berlebihan alias terlalu, maka yang terjadi bukan lagi indah, tetapi sebaliknya: gundah, resah, gelisah. Kita akan gundah bila mencintai atau pun dicintai seseorang dalam kadar yang terlalu. Misalnya: bila tak bertemu seharian saja (apalagi sampai sebulan lamanya) dengan orang yang terlalu dicintai, kita akan gundah dan ujung-ujungnya mungkin kita gak doyan makan. Akibatnya, perut jadi sakit karena sekresi asam lambung berlebihan. Akibat lebih lanjut, kita jatuh sakit dan kemungkinan besar harus dihospitalkan. Fatal, bukan?


Atau kalau tidak sefatal itu, akibat terlalu cinta, dalam gundah kita tentu akan kehilangan semangat untuk melakukan aktivitas-aktivitas keseharian yang sudah menjadi rutinitas. Akibatnya, banyak pekerjaan akan terbengkalai, dan ujung-ujungnya kita sendiri yang susah. Iya, 'kan?


Atau kemungkinan lain lagi, terlalu cinta itu mengandung resiko yang berat bukan kepalang berupa sakitnya perasaan bila nantinya harus berpisah dengan orang yang terlalu dicintai. Meskipun pertemuan/perikatan dan perpisahan itu adalah sesuatu yang wajar adanya, namun bagaimana pun juga, bila perikatan dalam cinta yang terlalu, ujung-ujungnya juga akan menimbulkan sakitnya perasaan yang terlalu (terlalu sakit, maksudnya) bila waktu untuk berpisah telah tiba.


Karena itu, tidak heran bila ada orang yang punya keinginan untuk “mematikan rasa” dengan harapan bisa menghindarkan diri dari “terlalu cinta”. Sebabnya ya itu tadi, “too much love will kill you”. Entah utopiskah keinginan untuk “mematikan rasa” itu, saya tak tahu. Yang jelas, memang ada orang-orang tertentu yang terlalu peka-rasa (hiper-sensitif perasaannya, maksudnya) sehingga mereka mudah jatuh pada rasa yang terlalu: terlalu cinta dan terlalu sakit perasaannya. (Jangan-jangan saya salah satunya. Tapi andai benar, saya tak ingin ikut-ikutan “mematikan rasa”. Saya sayang pada rasa, seperti apa pun rasa itu, sepahit apa pun, seberat apa pun, semenyakitkan apa pun, ia adalah bagian tak terpisahkan dari kemanusiaan saya. Tanpa rasa, hidup akan hampa—tak bermakna! Dan “mematikan rasa” adalah sebuah reaksi yang berlebihan—[ke]terlalu[an]. Cukuplah menghindari untuk mengurangi, bukan mengingkari untuk membuatnya mati.)


Dan secangkir kopi yang terlalu manis itu pun pada akhirnya—dengan terpaksa—tak saya habiskan, hanya saya seruput tiga kali dan masih bersisa separuh cangkir lebih. Saya tak ingin tenggorokan saya sakit karena kopi yang terlalu manis. Lagian, terlalu manis juga jadi tak nikmat di lidah, rasanya.


Setiap yang terlalu memang selalu membawa akibat, terkadang berat...[]


NB. Selamat menyongsong Saturday night yang sunyi, diriku ...

Sabtu/26-04-08



secangkir kopi saat rinai hujan (2)

.: sendiri berbuah suntuk


Malam ini, aku seorang diri di rumah kos. Empat orang teman penghuni lain sedang mudik ke kampung halaman. Satu teman lagi pergi semenjak sore tadi dan hingga detik ini belum kembali. Di luar, rinai hujan menyirami bumi kota Jember.

Sejak dua hari terakhir, wajah langit di atas kota Jember memang bermuram durja. Matahari nampaknya segan menampakkan diri, tak kuasa menyibak tirai mega yang menggelayut manja di angkasa. Jemuranku pun tak kunjung kering, malah menebarkan bau apek.

Untuk menawarkan getirnya suasana hatiku, segera kuracik secangkir kopi kental dan manis—cita rasa kesukaanku. Setelah kuseduh dengan air mendidih dari dispenser, kubawa secangkir kopi itu naik ke kamarku di lantai dua. Seperti malam-malam sebelumnya, ritual membosankan pun kumulai.

Komputer butut Pentium 3 keluaran tahun 2000 kunyalakan. Sambil menunggu proses loading operating system Windows XP Professional bajakan di komputerku itu, kuseruput secangkir kopi yang masih mengepulkan uap air panas itu dengan bibirku yang sudah sejak tadi berasa asam, pertanda seharian tak berpagutan dengan bibir cangkir (berisi kopi, bukan cangkir kosong. Emang gue gila apa, magut-magut bibir cangkir tak berisi, hikzz... hikzz...)

Aku klik player musik di komputer. Kucari-cari folder album Padi di list lagu koleksiku. Lalu aku drag & drop sebuah lagu berjudul Patah ke display list player itu, kemudian aku klik tombol virtual Play. Irama musik pun bersahut-sahutan keluar dari sepasang speaker aktif stereo, bersaing dengan berisik hujan di luar kamar. Gebukan dram si Yoyo berdentam keras di bagian intro lagu itu, menggedor-gedor dinding hatiku. Lengking gitar melodi si Piyu ikut-ikutan mendayu-dayu mengawali lagu itu, merobek-robek kesunyian suasana batinku.

Pikiranku pun sekejap melunjak-lunjak. Aihh... tak kunyana, vokal si Fadli mendendangkan syair melo ternyata. Aku nyaris lupa pada lirik lagu itu, karena sekian lama tak pernah kuperdengarkan di telingaku sendiri. Tapi biarlah, terlanjur, dan memang aku sendiri saat ini sedang bersuasana hati melo. Sedih, nelangsa dan merana karena tinggal seorang diri di dalam kamar. Hanya bertemankan seonggok komputer butut, sekalipun multimedia. Juga serakan dan tumpukan buku-buku yang bejibun, yang sebagian besarnya belum kubaca tuntas. Fiuhh... vokal si Fadli memang ampuh. Syair melo ia bawakan dengan penuh wibawa dan sahaja:


Bagai serpih-serpih pasir di pantai
Tersapu gelombang pasang
Meski harus hilang terpecah karang
Meninggalkan kenangan abadi

Ada tersimpan rasa perih mendera
Mengingat engkau disaat itu
Masih tentang cerita engkau dan dia
Yang tak pernah terukir indah

Kau bawa aku renungi apa yang terjadi
Kau bawa aku resapi semua tangismu itu

Memelukmu kuingin
Menyentuhmu kuingin
Dan mengucapkan sepatah kata


Namun air mata meski tercurah
Memandu cerita itu
Jiwamu tak mampu menahan semua
Ketidakberdayaan ini

Kau patahkan semua cerita hidupmu
Kau remukkan harapan yang tumbuh di hati

Memelukmu kuingin
Menyentuhmu kuingin
Dan mengucapkan sepatah kata

… … …


(Siapa hayo yang tidak berdesir hatinya menyimak syair liris itu…)


Kuseruput lagi untuk kedua kalinya kopi yang nyaris dingin itu. Arghh... so delicious... sulit menggambarkan kenikmatannya. Seperti lazimnya semua rasa, mulut manusia tak kuasa menjangkau untuk mengungkapkannya. Tulisan, yang notabene punya kelebihan daripada lisan, juga takkan sanggup melukiskannya, dengan bahasa secanggih apapun, dengan kekayaan kosakata semelimpah ruah pun. Adakah kita dapat menggambarkan segala rasa dengan utuh? Sanggupkah kata-kata mengungkapkan rasa cinta, misalnya, secara total? Ah, tak mungkin bisa. Jangankan rasa di jiwa, rasa di lidah, di bibir, dan di organ-organ tubuh lainnya saja sulit dan mustahil bisa digambarkan secara utuh. Ya, 'kan?

Rasa adalah sebuah pengalaman, yang hanya bisa dinikmati dan dipikul sendiri. Kita tak bisa menceritakannya secara utuh kepada siapa pun lewat bahasa. Orang lain hanya bisa menangkapnya lewat empati, dengan mengidentikkannya dengan pengalamannya sendiri. Kalau misalnya kita merasa sedih karena sedang dicuekin sang kekasih, maka orang lain hanya bisa memahami kesedihan kita apabila ia juga punya pengalaman dicuekin kekasihnya. Kalau orang itu tak punya pengalaman serupa dengan kita, mustahil ia bisa berempati secara sempurna. Jika kita berusaha menggambarkannya dengan kata-kata, pasti sia-sia saja, karena ia tak pernah mengalami apa yang sedang menimpa kita. Ya, 'kan?

Dan kalau kali ini aku coba menuliskan kesuntukan yang sedang menggelayuti cakrawala hati dan pikiranku, itu tak kumaksudkan untuk meraih empati dari siapa pun juga (tapi kalau ada yang berempati, dan lalu bersimpati, ya dengan senang hati kuterima. Swear...) Tulisan ini hanya aku maksudkan sebagai sarana menghibur diri sendiri, self-entertaining, dan syukur kalau bisa jadi self-healing bagi kemuraman perasaanku. Dan lebih syukur lagi kalau bisa menjadi self-entertaining dan self-healing bagi siapa saja yang dengan sabar dan tekun mengejanya, dengan segenap kesadaran dan perasaan.

Aihh... lagu Patah berdendang bolak-balik hingga sepuluh kali lebih, mungkin. Tak terasa lewat sejam lamanya aku berasyik masyuk dengan wajah indah monitor komputerku, memandangi barisan kata-kata yang kupulaskan sendiri di pipinya, juga di keningnya (monitor apaan, punya pipi dan kening segala?).

Anjrittt... kopiku diserbu semut! Masih tersisa separuh tubuh cangkir, lagi...

Menulis memang melenakan, membikin aku lupa pada kopi kesayanganku, kopi racikan tanganku sendiri... [*]


Ruang Gersang, 21 Februari 2008


Postscripto.Thanx bwt yg telah memperkenalkan istilah self-healing kepadaku. Matur nuwun sanget nggeh... (hikzz.. hikzz...)





secangkir kopi saat rinai hujan (1)

.:senggama pepohonan dan hujan


Di tengah perjalanan balik ke rumah-kos (yang telah menjadi rumah keduaku selama dua tahun terakhir menempuhi jenjang perguruan tinggi) beberapa waktu lalu, langit di atas kepala yang sudah nampak muram sedari aku meninggalkan rumah pukul empat sore, tiba-tiba melepaskan beban yang berbulan-bulan lamanya sepanjang musim kemarau ditanggungnya. Tak ayal lagi, aku sempat kebingungan dan kelabakan.


Kupacu sepeda motorku kencang-kencang melawan serangan mendadak dari langit itu dan berharap segera menemukan tempat untuk berteduh menyelamatkan diri. Selang tiga-empat menit kemudian, kulihat di depan ada sebuah warung kopi. Aku pun berhenti dan segera bergegas masuk dengan pakaian yang sudah lumayan basah kuyup. Sementara sepeda motor kuparkir sekenanya di tepi jalan. Biar saja ia diguyur hujan, toh tak bakalan kedinginan. Lagipula biar mesinnya yang telah setengah jam lamanya menampung letupan api di dalamnya itu lekas dingin.


Segera kupesan secangkir kopi kepada ibu setengah baya pemilik warung. Tak berapa lama kemudian, secangkir kopi dihidangkan, masih dalam keadaan panas dan melepaskan uap air ke udara. Setelah temperatur kopi perlahan menurun, aku seruput perlahan-lahan lewat bibir cangkir bermotifkan bunga-bunga berwarna ungu itu. Arghh... betapa nikmatnya...


Lalu aku raih sebungkus rokok dan korek api dari dalam saku jaket jinsku. Kuambil sebatang kemudian aku sulut lintingan tembakau plus cengkeh tersebut menggunakan korek api yang berbahan bakar gas cair butena itu. Sedetik kemudian api membakar ujung rokok dan membuatnya merah membara. Aku hisap perlahan, kutahan asapnya yang beracun dan “memabukkan” itu di dalam rongga dadaku untuk beberapa saat lamanya, kemudian aku keluarkan perlahan-lahan dari kedua lubang hidung sembari kutatap lekat-lekat asap yang mengalir pelan-pelan ke udara bebas tersebut. Seperti aliran “wedus gembhel” yang keluar perlahan dari kawah gunung berapi yang hendak meletus. Arghh... betapa bertambah rasa nikmatnya...


Sementara itu di luar hujan masih turun dengan derasnya disertai tiupan angin yang lumayan kencang. Kupandangi dengan khidmat barisan pepohonan di tepi jalan yang tampak bergoyang-goyang. Seolah ia sedang menari kegirangan karena mendapatkan curahan air dari langit setelah seharian dibakar terik matahari. Juga karena selain hujan, tak ada yang bersedia memandikannya dari noda debu dan asap beracun yang tiap hari tak henti-hentinya dimuntahkan oleh kendaraan bermotor yang berlalu lalang melewatinya. Pepohonan kian nampak kegirangan.


Ahh, mungkin ia sedang bersenggama dengan hujan. Merasai betapa nikmatnya berada dalam dekapan sang hujan. Seperti sepasang kekasih yang lama saling menanti untuk bersua, dan saling memendam rindu yang kian membuncah dan bergelora di dalam dada karena sekian lama terpendam dan tertahan, meronta-ronta untuk segera dilampiaskan.


Ya, pepohonan itu telah bersua dengan kekasihnya. Dan tak ada yang bisa menahannya agar tak meluapkan kerinduannya pada sang hujan. Dan hembusan sang bayu membuat sepasang kekasih itu kian tenggelam dalam percintaan yang sedemikian romantis dan menderu-deru. Tak peduli dengan satu dua pengendara yang melewatinya bersikeras menembus derasnya hujan. Juga tak peduli padaku yang sedari tadi tertegun memandanginya penuh takjub, juga iri pada kemesraannya.


Ah, biarlah. Biarlah hujan terus turun mengguyur. Aku tak tega melihat pepohonan harus cepat-cepat terlepas dari pelukan sang hujan. Biar kutunggu, sampai mereka sama-sama menuntaskan kerinduannya, merampungkan percintaannya... ... ...


Setelah lewat sejam, hujan pun perlahan mereda. Kuraih kembali cangkir yang tinggal menyisakan seseruputan kopi yang telah dingin di dalamnya. Kuseruput hingga tuntas dan menyisakan ampas hitam pekat seperti aspal. Lalu kutaruh kembali di atas meja. Sejenak kemudian hujan tinggal menyisakan rintik-rintik kecil. Segera aku sodorkan sejumlah uang kepada ibu pemilik warung sesuai nominal yang ia minta untuk secangkir kopi yang kini sudah menghuni perutku, dan diproses oleh organ-organ metabolismeku untuk menyegarkan saraf-sarafku.


Setelah mengucap terimakasih dan sekelumit kata pamit kepada ibu pemilik warung, kuayunkan kedua kakiku bergegas keluar menuju sepeda motorku yang telah basah kuyup oleh air hujan. Kutekan tombol starter elektrik di handel sebelah kanan. Sejurus kemudian mesin meraung-raung. Aku pandangi sejenak pepohonan yang sejam lebih tadi terlibat percintaan seru dengan sang hujan.


Ah, kasihan kini ia kembali tertegun sendiri. Meneteskan sisa-sisa pelukan hujan dari pucuk-pucuk dedaunannya. Seperti seseorang meneteskan air mata saat melepas kepergian sang kekasih hati. Ah, tapi ini bukan musim kemarau yang menjadi perpisahan panjang. Ini adalah musim penghujan yang hampir pasti esok hari air dari langit akan tumpah lagi. Dan ia akan kembali bersenggama dengan pepohonan.


Kuinjak pedal persneling motor dengan kaki kiriku. Lalu kutarik tuas gas dalam genggaman tangan kananku. Aku melesat menyusuri jejalanan aspal kota menuju rumah kosku, meninggalkan pepohonan yang telah puas bersenggama dengan hujan... [*]


Tepian Bedadung, awal Desember 2007

secangkir kopi dingin lewat tengah malam

.: di mana engkau, sepotong tulang rusukku..??


Mesin penunjuk waktu ketika tulisan ini saya bikin telah melewati titik 24.00 WIB, titik kulminasi hitungan waktu per hari untuk bagian barat Indonesia. Perlu anda tahu, saat itu saya seorang diri di rumah kos yang berukuran kira-kira 5x10 meter. Rekan penghuni lain sedang mudik, dan seorang lagi yang tersisa sedang bermalam di rumah rekannya. Dan tahukah sampeyan sekalian, apa yang kiranya saya rasakan saat itu—saat saya terus menatahkan beragam abjad dan tanda dalam jumlah ribuan ini? Sepi dan sunyi, tentunya. Tanpa seorang pun menemani saya, malam ini.


Dan sebagaimana kebiasaan saya saat akan melakukan ritual mesra dengan personal computer di dalam kamar, sebelumnya telah saya racik secangkir kopi kental dan manis, selera lidah saya. Tapi sayangnya, kopi itu terlalu cepat turun temperaturnya. Ia keburu mendingin sebelum saya sempat menurunkan volumenya hingga separuh tubuh cangkir. Alamak... jadi saya harus rela meneguk kopi dingin nih ceritanya. Lewat tengah malam, seorang diri, didera kesepian, dirajam kesunyian, harus rela mencecapi kopi dingin? Huh, betapa memuakkannya...


Andai saja saya sudah punya partner abadi dalam mengarungi hidup, mungkin di sepenggal sisa malam ini saya tak perlu merana dalam rasa. Andai saja saya sudah beristrikan seorang wanita cantik, pengertian dan perhatian, aduhai... betapa indah dan bercandunya hidup ini. Tak perlu saya bersusah dan berpayah memelototi layar monitor komputer sembari meraba-raba dan memijiti tombol-tombol di sekujur papan kibor dengan sepuluh jariku. Barangkali saya akan pergunakan kedua mata ini untuk memandangi lekat-lekat wajah istri yang sedang lelap (aduhai, betapa mesranya...), dan memanfaatkan jemari ini untuk memijiti jengkal demi jengkal tubuhnya yang kecapaian karena seharian menunaikan tugas domestik rumah tangga (ah, lagi-lagi ini cuma khayalan yang keterlaluan).


Dan lama kelamaan, secangkir kopi itu makin menjadi-jadi saja dinginnya. Karena tak lekas tersentuh mulut dan lidah barangkali. Mirip hidupku yang tak segera bertemu dengan sepotong “tulang rusuk” milikku sendiri yang entah disembunyikan di mana oleh Sang Pembuatnya. Ah, tulang rusukku, di mana dikau kiranya saat ini berada... daku merindumu untuk lekas kembali. Pulanglah, duhai tulang rusukku... Pulanglah...


Lekas-lekas kubikin tandas sisa-sisa kopi dingin di cangkir. Lekas-lekas pula saya akhiri tulisan ini, dan berniat untuk segera pergi melelap diri, berharap lewat mimpi saya akan mendapati petunjuk di mana kiranya separuh nafasku, sebelah jiwaku, sepotong tulang rusukku, berada... [*]


Litani sunyi, lewat tengah malam 26 Februari 2008